Tampilkan postingan dengan label quotes. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label quotes. Tampilkan semua postingan
Sabtu, 03 November 2012
Sabtu, 27 Oktober 2012
(500) Days of Summer
Haiiiii. Kemarin, gua beli dvd (500) Days of Summer. Filmnya udah lama sih, tahun 2009, cuma rame aja dan gua dapet banyak quotes dari sini. Jadi ceritanya, ada cowo namanya Tom (Joseph Gordon-Levitt) yang jatuh cinta sama Summer (Zooet Deschanel), asisten bosnya. Mereka akhirnya deket, dan hts-an gitu lah, tapi Summer gamau punya komitmen, dia pingin bebas, gapingin punya pacar, dan dia ga percaya sama yang namanya cinta. Blablablablabla dan ternyata Summer akhirnya nikah sama orang lain, dan Tom patah hati gitulah. Filmnya rame, ngakak, tapi jangan sampe nonton sama orang tua deh, if you know what I mean. Ini ada beberapa quotes dari filmnya:
Selasa, 23 Oktober 2012
Perahu Kertas (Quotations) #2
Bab 44, Cinta Tak Berujung.
Balkon belakang itu hanya berbentuk dak beton. Sebuah kursi dan meja plastik terparkir di sana. Tampak siluet Kugy duduk memunggunginya. Kepalanya menengadah, menatap langit senja. Rambutnya tergerai di sandaran kursi, berkibar halus ditiup angin.
Keenan menahan napas. "Kecil..."
Siluet itu terduduk tegak seketika. Kugy menoleh, mendapatkan Keenan sudah berdiri di hadapannya. "Kamu... kok... bisa ada di sini?" ia bertanya, terbata.
"Radar Neptunus", jawab Keenan ringkas seraya tersenyum sekilas. Ia lalu berjalan mendekati Kugy. Berjongkok di depannya. "Kenapa harus ngilang, Gy?" tanyanya halus.
"Aku juga nggak tahu kenapa", Kugy menggelengkan kepala, "tiap hari aku di sini, cuma untuk cari tahu kenapa. Dan masih belum tahu jawabannya".
"Saya mau bantu kamu. Boleh?" Keenan lantas meraih tangan Kugy. "Empat tahun saya kepingin bilang ini: Kugy Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu. Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat cinta ini ada ujungnya".
Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi ia tahan.
...
"Luhde nggak layak disakiti," desis Kugy lagi.
"Remi juga", timpal Keenan lirih.
Kugy menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi dari matanya yang kian mengabur.Hari semakin gelap. Angin semakin halus. Hatinya semakin perih.
"Banyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu, Gy", bisik Keenan.
Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. "Bisa. Pasti bisa. Kita tetap bisa bikin buku bareng, kan? Dan aku tetap bisa jadi sahabatmu". Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, harus ia tahan.
"Iya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu menjadi sahabat terbaik", Keenan menelan ludah. Kalimat itu begitu susah diucapkan. Apalagi ketika segenap hatinya berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya, pada Luhde, pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan, sama seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan menggenapkannya.
"Nan...", Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suaranya makin lirih, "banyak yang aku ingin bilang ke kamu. Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak apa-apa, nggak usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita.Kamu turun ya, Nan, pulang".
Kenan mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan membuat hatinya makin terluka. "Kamu juga jangan kelamaan di sini, Gy. Udah malam." Keenan menyentuh pipi Kugy sekilas. Perlahan, berjalan pergi.
Air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya kembali terang, meski langit sudah gelap, dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh. "Nan...", panggilnya.
"Ya?", Keenan berbalik.
"Aku nggak kepingin, sepuluh .. dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu." Kugy merapatkan tangannya di dada.
Keenan tercekat mendengarnya. "Nggak, Gy. Nggak akan. Kalau saya bisa, kamu juga bisa"
"Dan kamu yakin kamu bisa?", tangis Kugy.
"Pasti..." Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan, da kegentaran. Namun, ia tak mungkin lagi mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi itu. Lenyap dari pandangan Kugy. Harus ada yang bisa, batinnya, kalau tidak... Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. Ia tidak bisa mengingat, kapan hatinya pernah sepilu ini.
Di tempat yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya untuk Keenan, sekaligus tangisan yang paling menyakitkan. Ia bahagia sekaligus patah hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan diyakinkan bahwa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka tidak mungkin bersama.
-Perahu Kertas, Dewi Lestari
Perahu Kertas (Quotations)
Bab 16, Salah Berharap.
Bahkan untuk menyalakan lampu saja, Kugy tak punya daya. Dalam gelap, ia berdiri mematung. Terlintas jelas di kepalanya sore hari di Galeri Warsita, saat Keenan dan ia sama-sama memandangi Wanda dari kejauhan, dan terdengar jelas di kupingnya waktu itu, apa yang diucapkan Keenan ... Kugy menggeleng, barangkali waktu itu ia salah menangkap, atau ia salah berharap ... melintas jelas di kepalanya siang hari di bawah pohon beringin dekat ladang cabe, saat Keenan berkata bahwa ia kehilangan dirinya, Kugy takkan lupa cara Keenan menatapnya ... Kugy pun menggeleng, barangkali waktu itu ia salah melihat, atau lagi-lagi salah berharap. Dan terlintaslah petang di pintu gerbang, saat ia mendapatkan dirinya dipeluk, degup jantung yang terasa berdenyut bersama ... Kugy pun menggeleng, barangkali waktu itu ia salah. Selama ini ia salah.
Terakhir, ingatannya berlabuh pada bisikan Keenan yang ia simpan, yang ia kenang hampir setiap malam. Tiga kata yang selalu menjadi penyejuk bagi hatinya. Bulan, perjalanan, kita. Kugy menggeleng lagi. Bulan yang sama ada di angkasa malam ini. Namun, rasanya lain sekali. Membayangkannya saja terasa begitu pedih di mata. Kugy mengusap matanya yang basah. Sekali. Dua kali. Dan berapa kali pun ia mengusap, air mata itu tak kunjung berhenti mengalir.
-Perahu Kertas, Dewi Lestari.
Minggu, 21 Oktober 2012
"Before you, my life was like a moonless night. Very dark, but there were stars, points of light and reason, and you shoot across my sky like a meteor. Suddenly everything was on fire; there was brilliancy, there was beauty. When you're gone, when the meteor had fallen over the horizon, everything went black. Nothing had changed, but my eyes were blinded by the light. I couldn't see the stars anymore. And there was no more reason, for anything" -Edward Cullen, New Moon
One Day in Your Life
One day in your life
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart,
You'll remember one day...
One day in your life
When you find that you're always waiting
For a love we used to share
Just call my name, and I'll be there...
You'll remember the love you found here
You'll remember me somehow
Though you don't need me now
I will stay in your heart
And when things fall apart,
You'll remember one day...
One day in your life
When you find that you're always waiting
For a love we used to share
Just call my name, and I'll be there...
Sabtu, 20 Oktober 2012
Langganan:
Postingan (Atom)














